2026-08-06

Membangun Website Sendiri: Ketika Strategi Bertemu Eksekusi

AI riset tech stack, eksekusi code, pilih warna. Saya tentukan filosofi, gaya bahasa, sudut pandang marketing. Kolaborasi ini bukan tentang siapa buat apa, tapi bagaimana visi strategis bertemu eksekusi yang capable—dan bagaimana saya tetap di tempat yang benar: membuat keputusan.

  • decision-making
  • strategy
  • collaboration
  • craft

Website ini adalah hasil kolaborasi deliberate antara strategi dan eksekusi. Bukan saya membuat semua, juga bukan AI membuat semua. Saya define visi dan filosofi, AI melakukan riset dan implementasi, kami validate bersama. Keputusan final tetap di tangan saya.

Ini berbeda dari "saya buat semua" atau "AI buat semua"—ini tentang mengerti siapa yang qualified untuk apa, dan tetap mempertahankan tanggung jawab di tempat yang benar.

Masalah & Visi Awal

Tahun lalu saya mewarisi sistem dari orang lain. Yang saya pelajari: bukan tentang tools atau quality kode, tapi apakah sistem bisa dipahami orang berikutnya dengan cepat.

Tahun ini saya membuat website untuk orang yang ingin mengerti siapa saya. Portofolio tersebar, tidak ada single source of truth.

Tapi saya tidak hanya butuh website yang "bagus". Saya punya visi spesifik:

  • Tema: Software engineer yang berpikir filosofis dan psikologis
  • Gaya: Thoughtful, sustainable, bukan flashy atau trendy
  • Konten: Berbasis cerita seperti novel medieval dengan narasi mendalam
  • Audience: HRD dari perusahaan besar, dev yang ingin learn, international market
  • Bahasa: Dua bahasa dengan nilai sama tapi register berbeda sesuai audience

Ini semua datang dari saya. AI tidak diminta define ini.

Pembagian Tanggung Jawab: Siapa Decide Apa

AI: Research, Eksekusi, Opsi

Setelah saya define visi, saya tanya:

"Apa tech stack terbaik? Folder structure yang scalable? Warna dan imagery yang signal 'thoughtful engineer'?"

AI melakukan:

  • Riset tech stack dengan constraint yang saya define
  • Design folder structure untuk sustainability
  • Eksekusi components, styling, full implementation
  • Research imagery dan color palette aligned dengan brief
  • Revise code dan content based on feedback
  • Analyze performance dan suggest multiple improvement options

Contoh konkret:

Untuk color palette, AI suggest beberapa options dengan reasoning:

  • Monochrome plus single accent (minimal, professional signal)
  • Warm neutrals plus accent (approachable, thoughtful tone)
  • Cool tones plus accent (technical, clean aesthetic)

AI provide reasoning untuk masing-masing: device compatibility, accessibility implications, psychological effect pada audience, alignment dengan positioning.

Saya: Strategi, Filosofi, Validasi Final

Saya decide:

  • Monochrome plus single accent (align dengan "tidak flashy", organized thinking signal, tech recruiter recognize ini)
  • Blueprint motifs (architecture thinking untuk problem solver positioning)
  • Font combination: serif plus sans (formal tapi approachable)

Untuk setiap keputusan, saya validate reasoning AI dan decide berdasarkan strategic intent—bukan "terlihat bagus" tapi "apakah ini komunikasikan narrative yang tepat?"

Tema & Filosofi: Kenapa Medieval Novel Structure?

Ini adalah keputusan pure strategis dari saya.

Reasoning:

HRD dari perusahaan besar scan banyak resume. Kebanyakan linear: "two thousand nineteen IC, two thousand twenty-one specialist, two thousand twenty-four lead". Boring.

Saya ingin narrative yang engage—tapi tetap credible.

Medieval novel structure (five acts, each with tension dan resolution) = memorable story yang audience ingin continue reading. Setiap act punya specific achievement clear di heading.

AI tidak suggest ini—AI execute ini.

Saya brief: "Five acts dari career progression saya. Act one: beginnings, Act two: domain expertise, Act three: maintaining systems, Act four: understanding architecture, Act five: now. Setiap act explain problem, decision, dan impact. Tone: thoughtful, not boastful."

AI generate prose yang match tone, structure narrative dengan pacing yang baik, add metrics untuk credibility.

Konten Bilingual: Filosofi Berbeda, Nilai Sama

Ini keputusan pure saya tentang marketing strategy.

Audience berbeda = register berbeda = approach berbeda.

English Version

Target: International recruiter, engineers interested technical deep-dive.

Strategy: Full five-act narrative dengan elaborate reasoning. Formal conclusion dengan philosophical reflection.

Tone: Reflective, detailed, somewhat literary.

Indonesian Version

Target: HRD dari perusahaan besar Indonesia yang scan cepat.

Strategy: Facts first, reasoning second. Scan-friendly headings. Direct positioning: "Sistem yang salah angkanya = gaji tidak sampai = tanggung jawab saya prevent ini."

Tone: Direct, professional, confident.

Kesamaan nilai: Dua bahasa berbeda tone, tapi kedua communicate engineer yang think systematically, solve real problems, responsible untuk outcomes.

AI translate dan adapt untuk different register, tapi strategy datang dari saya.

HRD & Marketing Perspective: Strategi Komunikasi

Ini analisis marketing yang saya buat.

Ketika membuat website, saya pikir dari beberapa sudut pandang:

HRD Perspective (Large Companies)

Apa yang HRD cari:

  • Clear career progression
  • Evidence of growth (IC ke specialist ke lead)
  • Solve real problems (payroll, banking, marketplace)
  • Bisa explain thinking
  • Stable (seven tahun satu perusahaan = unusual, positive signal)

Website strategy: Position sebagai engineer yang care tentang outcomes, bukan just coding. HRD recognize bahwa people yang think like this care tentang production systems.

Local Market (Indonesia)

Apa yang valued:

  • Loyalty dan stability
  • Technical depth dalam domain specific
  • Leadership experience
  • Indonesian presence

Website strategy: Use Indonesian language native-like, reference Indonesian context, show deep domain expertise di area yang local market understand.

International Market

Apa yang valued:

  • Systems thinking
  • Problem-solving approach
  • Philosophical perspective
  • Ability to articulate

Website strategy: Emphasize systems-thinking angle, include philosophical reflection, show how problems solved.

AI tidak suggest ini—AI execute ini. Setelah saya brief tentang strategy ini, AI implement dalam tone, content selection, messaging.

Development Process: Research → Execute → Validate → Decide

Tahap satu: Define

  • Saya tentukan visi, tema, filosofi
  • Saya tentukan tujuan dan audience understanding

Tahap dua: Research & Recommend

  • AI research tech stack dengan constraint saya define
  • AI research design direction matched dengan brief
  • AI provide multiple options dengan analysis

Tahap tiga: Validate & Decide

  • Saya review AI recommendations
  • Saya ask: "Align dengan visi?"
  • Saya decide direction

Tahap empat: Execute & Iterate

  • AI build implementation
  • Saya test dan feedback
  • AI revise based on feedback
  • Loop sampai match intent

Tahap lima: Analyze & Optimize

  • AI analyze performance
  • AI suggest improvements dengan options
  • Saya decide prioritas

Metrics & Results

Technical: Lighthouse ninety-five plus, page load under one detik, zero layout shift, fully accessible

First days: Organic traffic, no paid ads, trajectory pointing up

Yang penting: hasil ini adalah combination dari visi yang clear (saya) dan execution yang capable (AI).

Lesson Learned: About Strategic Collaboration

Lesson satu: Define visi sebelum delegate execution

Clarity di awal sama dengan better output di akhir. Visi specific membantu AI optimize untuk direction yang tepat.

Lesson dua: Delegate expertise ke yang qualified

Saya tidak research tech stack dari blog. Saya delegate ke AI trained on massive technical documentation. AI recommend dengan reasoning solid—saya validate, decide.

Lesson tiga: Maintain strategic control

Delegate execution bukan berarti delegasi strategy. Saya tetap control: visi, filosofi, tone, messaging, validation.

Lesson empat: Feedback harus specific dan strategic

Jangan bilang "improve this". Bilang "landing page terasa empty karena whitespace—dan ini problema karena recruiter scanning dua puluh detik need visual anchor immediately."

Lesson lima: Multiple options lebih baik dari single recommendation

AI provide tiga options untuk color palette dengan trade-off analysis. Saya choose yang align dengan strategy.

Transparansi: Kenapa Ini Penting

Orang tanya: "Siapa yang buat?"

Jawaban jujur: Keduanya, dan keduanya penting.

AI: Research solid, execution capable, iterasi cepat, multiple options untuk evaluate.

Saya: Visi clear, strategy sound, validation careful, keputusan final.

Model collaboration ini menunjukkan:

  • Strategic thinking (visi yang jelas)
  • Judgment (evaluate dan decide thoughtfully)
  • Pragmatism (gunakan tools dengan smart)
  • Responsibility (keputusan final tetap saya)

Kita tidak mengendalikan tools yang ada. Tapi kita mengendalikan bagaimana kita gunakan tools, dan apakah kita tetap di tempat keputusan.

Itu yang membedakan craft yang good dari asal jadi.